Kisah Tulo dan Tulio

19 06 2009

Pada suatu ketika hiduplah dua bersaudara. Tulo si kakak dan Tulio si adik. Mereka sangat baik dan ramah. Namun ada keanehan pada tubuh mereka. Tulo memiliki kaki yang panjang setinggi rumah, namun tangannya pendek sekali. Sementara Tulio memiliki kaki yang amat pendek namun tangannya amat panjang sehingga bisa memeluk sebuah rumah. Anak-anak menyukai mereka. Namun orang dewasa menganggap mereka aneh. Tulo dan Tulio senang menghibur anak-anak. Mereka bercerita, melucu, bernyanyi…

Suatu hari Tulio berkata kepada Tulo, “Kak, aku mendengar cerita tentang kolam ajaib. Konon kolam itu bisa membuat tubuh kita normal. Aku tidak suka dianggap aneh dan ditertawakan. Ayo kita cari kolam ajaib itu.”
Tulo berpikir sejenak. “Baiklah! Mari kita berpetualang mencari kolam ajaib itu!” ujarnya kemudian.

Di sepanjang perjalanan, Tulo an Tulio bertemu banyak orang. Ada yang menganggap mereka aneh, ada pula yang menerima mereka dengan senang hati. Yang jelas, kemanapun mereka pergi, mereka selalu menghibur anak-anak. Mereka bermain akrobat ataupun melucu. Anak-anak sangat gembira melihat pertunjukan mereka.
Lama-kelamaan orang dewasa pun mulai menyukai pertunjukan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio menjadi amat terkenal. Mereka diundang di berbagai perayaan dan pesta. Ketenaran mereka akhirnya terdengar Raja Tenggara.

Raja mempunyai masalah. Putranya sangat pemurung. Ia tidak mau tertawa dan amat pemarah. Sifat putranya itu membuat raja sedih. Dengan sifat seperti itu, putranya akan sulit menjadi raja yang dicintai rakyatnya kelak. Berbagai tabib, pelawak, tukang sulap, tak mampu membuat pangeran kecil itu tersenyum. Raja Tenggara akhirnya mencoba memanggil Tulo dan Tulio. Ia berharap Tulo dan Tulio berhasil.

Kedua kakak adik itu datang ke istana Raja Tenggara. Mereka mencoba menghibur pangeran kecil. Mereka menari, menyanyi, melucu, dan berakrobat. Mula-mula pangeran kecil tak tertarik. Namun lama-lama ia mulai memperhatikan Tulo dan Tulio. Tulo dan Tulio memang berbeda dengan penghibur lainnya. Mereka sangat menyukai anak-anak. Tulo membopong sang pangeran kecil di atas pundak. Pangeran pun dapat melihat kota dengan jelas. Tulio menggunakan tangannya yang panjang untuk mengayun tubuh pangeran. Pangeran kecil merasa terbang seperti burung. Wah, hanya Tulo dan Tulio yang sanggup melakukan hiburan seperti ini.
Pangeran kini mulai sering tertawa dan bergembira. Pangeran itu juga tidak pemarah dan egois lagi. Rupanya selama ini pangeran merasa kesepian dan bosan. Tulo dan Tulio mengajarinya cara berteman dan menjaga perasaan orang lain.

Raja gembira luar biasa. “Mintalah apa saja. Pasti kukabulkan!” ujarnya pada Tulo dan Tulio.
“Baginda yang baik. Kami dua bersaudara sebenarnya sedang mencari kolam ajaib. Konon, kolam tersebut dapat membuat kami normal seperti orang lain. Jika Baginda tahu di mana tempatnya, ijinkanlah kami ke sana,” jawab Tulo.
“Itu bukanlah permintaan yang sulit. Kebetulan sekali kolam ajaib yang kalian maksud itu adalah milikku. Pakailah sesuka kalian!”

Raja segera menyuruh pengawal mengantarkan Tulo dan Tulio. Sesampainya di kolam ajaib, Tulo dan Tulio langsung menceburkan diri ke dalam kolam ajaib. Luar biasa! Beberapa saat kemudian mereka menjadi orang normal. Kaki dan tangan mereka tidak lagi kepanjangan atau kependekan. Tulo dan Tulilo senang bukan sekali
Kini Tulo dan Tulio tak perlu merasa berbeda dengan orang lain. Mereka menjalani hidup baru mereka dengan puas. Namun lama kelamaan, mereka merasa kehilangan sesuatu. Ada yang kurang dalam hidup mereka.

Lama mereka berpikir. Akhirnya mereka sadar. Sekalipun keinginan mereka terpenuhi, namun mereka telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Yah, mereka telah kehilangan diri mereka sendiri. Tulo dan Tulio yang dulu telah hilang. Tidak ada Tulo yang kakinya sering dipanjati anak-anak dengan riang. Tidak ada Tulio yang mampu mengayunkan pangeran kecil sampai tergelak-gelak. Tidak ada lagi Tulo dan Tulio yang dulu sangat dicintai anak-anak. Orang banyak pun tidak dapat menyaksikan pertunjukan mereka lagi. Tulo dan Tulio mulai dilupakan orang.

Tulo dan Tulio mulai berpikir kembali. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya mereka kembali menghadap raja Tenggara.
“Yang Mulia, kami sangat senang menjadi normal. Namun kami telah kehilangaan diri kami. Lama kami berpikir. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali menjadi Tulo dan Tulio yang dulu. Sekalipun aneh, itulah diri kami yang sesungguhnya,” ujar dua bersaudara itu.

Raja Tenggara kembali mengabulkan permintaan mereka. Raja menyuruh pengawalnya mengantar mereka ke kolam ajaib. Tulo dan Tulio segera menceburkan diri mereka ke kolam itu. Dan sejak itu, tubuh mereka kembali seperti semula. Hidup mereka pun kembali gembira seperti dulu. Dikelilingi anak-anak yang mencintai mereka.

Oleh: Glory Gracia Christabelle (Bobo No. 07/XXX)





Muslihat Kerbau

9 06 2009

Di sebuah desa pinggiran hutan, tinggallah seorang janda dengan anak gadisnya yang cantik. Meski berwajah rupawan, gadis itu amat rendah diri. Ia malu karena warna kulitnya sering berubah-ubah.

Kalau duduk di atas rumput, kulitnya menjadi hijau. Kalau makan sawo, kulitnya berwarna coklat. Terkena sinar matahari pagi, kulitnya akan menjadi kuning. Gadis itu paling merasa sedih jika ia berada di tempat gelap. Kulitnya seketika menjadi hitam legam. Karena warna kulitnya sering berubah-ubah, ia dijuluki Putri Warna-Warni.

Prok prok prok! Seluruh penghuni hutan yang hadir bertepuk tangan ketika Raja Umba Singa mengumumkan pemenang sayembara. Raja Umba Singa ingin mengangkat seorang penasejat kerajaan yang cerdik. Ia lalu mengadakan sayembara. Siapa yang menang, berhak mendapatkan kedudukan itu. Tentu saja peminat sayembara itu banyak. Tak ketinggalan Obi Kerbau dan Ucil Kancil.

Pada akhirnya, Ucil Kancil-lah yang keluar menjadi juara. Ia mengalahkan peserta lain termasuk Obi Kerbau.
“Ucil Kancil yang cerdik, kemarilah mendekat,” ujar Raja.
“Hambaku Baginda…,” Ucil Kancil melangkah menuju singgasana Raja.
“Aku akan memberimu penghargaan atas kecerdikanmu yang telah teruji,” Raja Umba Singa melepas mantel beledu merahnya dan dipakaikannya pada Ucil Kancil. “Terimalah mantel ini sebagai tanda gelar kehormatan dariku. Mulai saat ini kau kunobatkan menjadi penasehat kerajaan ini,” kata Raja.
“Terima kasih Baginda,” Ucil Kancil membungkuk hormat pada sang Raja.

Maka sejak saat itu, resmilah Ucil Kancil menjadi penasehat kerajaan. Seluruh penghuni hutan menyambutnya gembira. Kecuali Obi Kerbau yang merasa iri pada Ucil Kancil. Obi menganggap dirinya yang pantas mendapat kedudukan itu. Sebab tubuhnya lebih besar dan kuat dibanding Ucil Kancil.
“Huh, hewan kecil itu membuatku terhina,” sungut Obi Kerbau. “Tunggu saja balasanku!” geramnya.
Obi Kerbau mencari akal untuk membalas sakit hatinya pada Ucil Kancil.
“Ah…, aku tahu,” serunya terlonjak kegirangan. “Hanya nenek sihir itu yang dapat membantuku,” gumamnya.
Obi lalu pergi ke rumah penyihir tua di lembah Kegelapan.

Sesampainya di sana, Obi menceritakan maksud kedatangannya kepada si nenek sihir.
“Nek, saya mohon bantuan Nenek untuk membalas sakit hati saya itu,” ujar Obi ketika mengakhiri ceritanya.
“Hihihi, kerbau yang malang! Baiklah, aku akan menolongmu,” sahut si nenek sihir lalu melangkah menuju kamarnya. Tak lama kemudian ia keluar lagi membawa dua botol kecil.

“Bawalah ramuan ajaibku. Teteskan ramuan ajaib dalam botol biru ini pada minuman yang akan disuguhkan pada Ucil Kancil. Dan yang berwarna merah ini untukmu,” kata nenek sihir sambil menyerahkan kedua botol itu pada Obi Kerbau. “Tapi ingat! Cukup tiga tetes,” lanjutnya. “Terima kasih, Nek…,” jawab Obi Kerbau lalu mohon diri.

Dengan gembira Obi Kerbau pulang ke rumahnya. Namun di tengah jalan hujan lebat turun. Tak ada tempat untuk berteduh, karena saat itu ia berada di tengah padang rumput luas. Akhirnya, dengan badan basah kuyup Obi Kerbau melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di rumah, Obi Kerbau menyimpan kedua botol berisi ramuan ajaib itu di tempat tersembunyi. Obi tidak sadar kalau warna kedua botol itu telah berubah. Yang biru berubah warna menjadi merah, dan yang merah menjadi biru.

Keesokan harinya, Obi pergi ke rumah Ucil Kancil untuk melaksanakan rencana jahatnya. Setibanya disana Obi berkata, “Tuan Penasihat Kerajaan, hamba datang untuk mengundang Tuan pada pesta ulang tahun hamba nanti malam.”
“Tentu saja aku akan datang Obi Kerbau,” jawab Ucil Kancil.
Malam hari pun tiba. Ucil Kancil datang ke rumah Obi Kerbau.
“Selamat datang tuanku,” sambut Obi pura-pura gembira. .
“Ah, dimana undangan yang lainnya…?” tanya Ucil Kancil heran.
“Maaf Tuanku, mereka semua belum datang. Tuankulah yang pertama hadir di sini,” jawab Obi. “Sambil menungggu undangan yang lain, silakan Tuan mencicipi makanan dan minuman yang telah hamba siapkan ini,” lanjut Obi.

Ucil Kancil melangkah masuk ke rumah Obi Kerbau.
Obi Kerbau masuk ke dapur untuk mengambil dua gelas minuman. Tak lupa ia menuang ramuan ajaib pemberian nenek sihir itu. Yang merah di gelasnya, dan yang biru di gelas Ucil Kancil, “Rasakan pembalasanku, Kancil bodoh…,” gumamnya licik.

Tanpa curiga Ucil Kancil menerima gelas minuman dari Obi Kerbau. Minuman itu harum dan mengundang selera. Ucil Kancil meminum minumannya, dan Obi Kerbau meminum minumannya sendiri.
Setelah meminum minuman itu, Ucil Kancil merasa tubuhnya kian segar. Pikiran dan perasaannya pun kian tajam. Lain halnya dengan Obi Kerbau. Setelah meminumnya, kepalanya terasa pusing dan lidahnya kaku.

“Wahai Obi Kerbau, minuman apa ini? Nikmat sekali rasanya,” seru Ucil Kancil. “Mooooee…,” jawab Obi Kerbau. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi karena lidahnya kaku, yang keluar hanya suara lenguhan.
“Eh, ada apa denganmu, Obi?” Ucil Kancil heran.
Obi tidak menjawab. Karena malu, ia cepat-cepat pergi.
Kejahatan Obi Kerbau akhirnya terbongkar. Nenek Sihir itu bercerita pada Ucil Kancil tentang permintaan Obi Kerbau.
“Kasihan Obi kerbau. Ia termakan kejahatannya sendiri,” gumam Kancil.

Sementara itu, Obi Kerbau terus berjalan. Akhirnya seorang petani menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Petani itu lalu merawat Obi Kerbau hingga dia sehat kembali. Obi Kerbau menyesali perbuatannya. Tapi sesal kemudian tiada gunanya.
Sejak saat itu, Obi Kerbau marah sekali bila melihat kain merah. Karena ramuan berwarna merah-lah yang membuatnya jadi seperti itu. Hingga saat ini kerbau akan marah bila melihat kain berwarna merah. Mereka menganggap itulah penyebab kebodohan mereka.

Oleh : Agus Kuswanto (Bobo No. 14/XXVIII)