Agar Malu Tidak Menghambat Potensi

24 11 2009

Si kecil perlu dirangsang agar tak malu-malu tampil dan bersosialisasi. Namun ada malu yang memang diperlukan agar ia enggak jadi malu-maluin, lo.

“Aduh, kenapa, sih, Eli, kok, enggak seperti teman-temannya. Ia selalu menolak bila diminta bernyanyi di depan kelas? Bilangnya selalu, “Enggak mau. Malu! Persis kayak Bapaknya!” ujar seorang ibu.

Ada dua hal menarik yang bisa ditarik dari kasus di atas. Pertama, bahwa perasaan malu bersifat individualis. Misalnya, Eli bisa jadi selalu malu disuruh bernyanyi di depan kelas. Namun temannya, Fafa, bisa tampil cuek bernyanyi sambil berlenggang apa adanya. Hal kedua, kata ibunya sifat Eli yang pemalu persis seperti sifat bapaknya. Jadi apakah pemalu merupakan faktor genetik?

Ternyata belum ada jawaban pasti apakah pemalu merupakan sifat yang diturunkan atau tidak. Yang jelas, malu akan berbeda pada setiap orang, seperti halnya Eli dan Fafa karena sifatnya yang individualistis. Walaupun begitu, Hj. Fitriani F. Syahrul, Psi.MSi., yakin, faktor genetik sedikit banyak berperan menjadikan seseorang bersifat pemalu atau tidak. “Kalau orang tuanya berani, katakanlah jika dulu ia seorang aktivis, maka ada kecenderungan anaknya pun akan aktif dan berani. Sebaliknya, bila orang tuanya tak mau bergaul karena sifatnya yang pemalu, anaknya juga memiliki kecenderungan seperti itu.”

Fitriani sangat menggarisbawahi kata “kecenderungan” yang berarti faktor genetik tidak berperan 100 persen karena masih ada pengaruh lain, yakni faktor lingkungan. “Anak yang memiliki kecenderungan pemalu akan menjadi benar-benar pemalu tatkala orang tuanya tak pernah merangsangnya untuk berani,” tandasnya.

PEMAHAMAN DIRI

Teori mengatakan, perasaan malu sebenarnya muncul sebagai gambaran bahwa anak sudah mulai mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya. Istilah psikologisnya self-understanding atau pemahaman mengenai diri sendiri yang dimulai pada usia sekitar 1 tahun 6 bulan. “Pada tahap self-understanding anak mulai tahu kalau rambutnya keriting dan berwarna hitam. Tubuhnya gendut dan hidungnya mancung, misalnya.”

Mulai usia 3-4 tahun, seiring dengan cara berpikir anak yang mulai berkembang, ia pun sadar jika orang dapat menilai dirinya dengan cara tertentu. Apalagi bila ia sudah masuk “sekolah”, anak makin banyak memperoleh feedback yang berkenaan dengan dirinya, seperti, “Ah, kalau aku pakai celana panjang jins banyak yang memuji.”

Bahasa sederhananya, Saat menjelang usia 3 tahun, self-understanding mulai diembel-embeli tuntutan lingkungan. Alhasil, si kecil pun mulai penuh pertimbangan kala akan melakukan sesuatu; apakah perilaku tersebut akan diteruskan atau tidak. “Salah satu wujudnya bila tidak diteruskan adalah dengan kata-kata seperti, “Ah, enggak mau. Malu!” ujar Psikolog dari Lentera Insan, Depok, ini.

TIGA KATEGORI MALU

Perasaan malu disebut Fitriani terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu malu bersosialisasi, malu menampilkan potensi, dan malu yang memang diperlukan. Nah, kasus Eli di atas berkaitan dengan malu dalam menampilkan potensi atau malu karena ia tidak berani menampilkan diri apa adanya. Penyebabnya, bisa jadi karena pembentukan konsep diri positifnya kurang didukung lingkungan. “Bila anak selalu disalahkan atau diberi label negatif maka ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki konsep diri negatif. Anak jadi cenderung pasif, malu-malu, sering menarik diri dan merasa selalu tidak mampu,” kata ibu dua putra ini.

Awal pembentukan konsep diri (self-esteem), yaitu self-understanding yang sudah dibicarakan tadi. Bedanya, pada tahap self-understanding, anak hanya mengerti kalau “tubuh saya gendut”. Selanjutnya bahwa gendut itu jelek atau baik, akan diketahuinya dari lingkungan. Lalu muncullah konsep diri. Orang tua yang sering berkata “Kamu, kan gendut jangan pakai baju model rempel dong, jelek!” merupakan pemicu konsep diri yang negatif. “O, ternyata saya gendut dan gendut itu jelek, toh.”

Ketimbang self-understanding, lanjut Fitriani, self-esteem lebih mendarah daging atau akan jauh lebih masuk ke dalam pemikiran seseorang. Dalam konsep diri, anak tahu ada suatu label tertentu yang tercap pada dirinya. Tak heran, para psikolog maupun pendidik sangat mewanti-wanti orang tua agar tak sembrono melabel anak. Si kecil yang selalu malu bicara dengan orang lain, bisa jadi karena ia sering mendengar kata-kata seperti, “Kamu kalau bicara jangan terlalu cepat gitu. Kan, yang dengar jadi enggak ngerti. Tanggapan seperti, “Ah, kamu kalau nyanyi sember” juga bisa membuat anak malu bila harus melantunkan suara.

CARA MENGATASI

Jadi bagaimana agar si kecil tak malu-malu? Menurut Fitriani rasa malu sangat berkaitan dengan kepercayaan diri. “Kalau anak pede, dia enggak akan malu-malu. Disuruh tampil, ya, dia akan berani maju.” Nah, semua ini bisa dibentuk. Berikut beberapa kiatnya:

* Sosialisasi

Menurut Fitriani, sebagai langkah awal, ciptakan kondisi agar si kecil sering bertemu orang lain. Lakukan sedini mungkin karena terlambat sedikit kekhawatiran bahwa anak jadi pemalu bisa terjadi. Kalau ini terjadi berarti anak masuk kategori malu dalam bersosialisasi. Kondisi ini bisa diperparah bila anak memang memiliki kecenderungan ke arah situ. Misalnya, karena ibu juga pemalu anak tidak diberi kesempatan bertemu orang lain. “Akhirnya, ia bisa menjadi pemalu beneran. Bahkan takut bila bertemu orang.”

Jadi sekali lagi, perkenalkan sosialsisasi sejak dini. Bagi orang tua yang sibuk bekerja, Direktur Yayasan Insan Kamil ini menyarankan untuk memanfaatkan hari libur untuk merangsang sosialisasi si kecil. “Saat pergi kondangan, misalnya, tak ada salahnya anak dibawa. Dengan begitu ia jadi kenal keramaian. Ingatkan juga agar pengasuh jangan mengeram anak di rumah seharian. Sekali-kali ajak anak bertandang ke tempat-tempat umum seperti taman yang letaknya tak jauh dari rumah.”

Kalau anak sudah telanjur jadi pemalu, masukkan ia ke taman bermain yang bisa mengeliminir sifat tersebut. Di sekolah anak bisa belajar dari teman-temannya. “O, ternyata Rafif berani bicara dengan teman­teman yang lain, kok.” Interaksi natural yang terus menerus dapat membuka mata si kecil sehingga ia tertantang untuk melakukan sosialisasi. Dengan dukungan guru di sekolah yang tidak pernah mengekang dan mencemooh lama-lama makin tumbuhlah keberanian pada diri anak.

* Selalu berkata positif walau si kecil “salah”.

Hindari menyalahkan anak serta merta dari awal walau pernyataannya kurang tepat. “Kalau anak salah memberi pernyataan bukan berarti dia bodoh. Iyakan saja dulu baru setelah itu beri penjelasan yang lebih tepat” saran Fitriani. Tanggapan yang sama juga berlaku pada pernyataan si kecil yang terdengar ekstrem. “Tuhan itu nakal, ya masak memberi petir kepada kita.” – “Iya, sayang. Tapi petir itu juga ada gunanya, lo. Dengan mempelajari petir, manusia jadi tahu keadaan cuaca.”

* Biarkan anak mengambil keputusan.

Terapkan prinsip ini dalam keseharian. Saat anak memilih warna baju yang norak tak perlu berkata “Aduh Dek, kamu, kan hitam jadi kalau pakai merah enggak cocok.” Lebih bijaksana bila kita katakan, “Kayaknya baju yang putih lebih bagus, deh!” Toh, kalau ia bersiteguh dengan warna pilihannya, hargai saja.

Pada usia 3-4 tahun, anak mulai membentuk jati diri. Kepercayaan dirinya sedang tumbuh sehingga ia merasa dapat melakukan semua sendiri. Saat itu, mulailah egonya muncul. Ia tahu apa yang bisa dilakukan dan yang tidak, hingga akhirnya ia dapat membentuk suatu konsep diri yang utuh. Bila anak merasa dapat melakukan banyak hal, konsep dirinya akan positif. Sebaliknya, kalau ia sering diserang dengan berbagai hal negatif maka anak akan susah untuk percaya diri karena konsep dirinya negatif.

MALU YANG DIPERLUKAN

Satu hal lagi yang tak boleh terlewat adalah malu yang memang diperlukan. Memang tak ada rujukan dari maksud “yang diperlukan” ini. Ada orang yang nyaman saja mengenakan rok mini. Di lain pihak ada yang merasa malu jika pahanya terlihat. Yang jelas rasa malu ini perlu ditegakkan sejak dini, yaitu saat anak mulai dapat berbicara, sekitar usia 1-1,6 tahun. “Nak, kalau duduk enggak boleh sampai kelihatan celana dalamnya. Malu,” atau “Sehabis keluar dari kamar mandi, Adek harus pakai handuk. Kan, malu kalau dilihat orang.”

Tentu saja, rasa malu ini tidak bisa diharapkan langsung tertanam pada diri si kecil karena butuh waktu. Jadi wajar saja, ujar Fitriani, bila perilaku anak terkadang tidak konsisten. Keluar kamar mandi terkadang bertelanjang bulat. Di kesempatan lain, ia bisa keluar dengan dililit handuk. “Namun kalau diingatkan terus maka pada usia 3-4 tahun biasanya kebiasaan yang kita inginkan sudah mulai terbentuk.”

“SI TAK TAHU MALU”

Bagaimana cara mengatasi anak yang “tak tahu malu”? Setiap ada pertanyaan dari guru, ia tunjuk tangan terus. Atau kalau diminta melakukan atraksi ia mau melakukannya tanpa memberi kesempatan kepada yang lain. Menurut Fitriani, sebenarnya hal itu bukan suatu hal yang negatif, sebaliknya malah sesuatu yang positif. “Mungkin anak itu memang pintar. Bisa juga ia melakukan itu hanya untuk mencari perhatian walau enggak tahu jawabannya benar atau salah.” Namun apa pun alasannya, tak malu tunjuk tangan atau melakukan atraksi merupakan hal yang positif karena menunjukkan keberanian si kecil. “Hanya saja ia perlu dikenalkan akan konsep bergiliran bahwa ada orang lain yang juga mesti diberi kesempatan. ‘Tadi, kan Anca sudah. Sekarang giliran Toni, ya,” contohnya.





Membentuk Moral Anak

24 11 2009

MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berdiskusi antara orangtua dan anak ini dapat dilakukan di rumah.

Anak tentu saja menjadi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bisa jadi anak yang telah dibesarkan dan dididik sebaik mungkin, menjadi anak yang tidak mengerti nilai-nilai moral dalam kehidupan.

Kondisi tersebut tentu saja mengecewakan karena apa yang sejak dini ditanamkan, hilang begitu saja. Padahal, membentuk moral anak bisa dilakukan sejak dini, bahkan ketika anak memasuki tahun pertama usianya.

Hal tersebut terungkap dalam seminar pendidikan dan parenting bertajuk Education in the Changing World, di Kemang Village, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Hadir sebagai pembicara, Kepala Sekolah Pelita Harapan (SPH) Brian Cox M Ed dan Koordinator Sekolah SPH James T Riady.

Selain dua pembicara tersebut, seminar juga dihadiri oleh Pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karier Roswitha Ndraha, Sport and Arts Director Universitas Pelita Harapan Karawaci Stephen Metcalfe BA, dan Rektor Universitas Pelita Harapan Jonathan Parapak. Berbagai topik seminar diangkat dengan tujuan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.

Seperti diungkapkan James T Riady, yang membawakan makalah bertajuk Youth with a Vision. Dalam makalahnya, dia banyak menyinggung tentang perkembangan moral anak yang tidak saja didapatkan di sekolah.

“Pengetahuan yang tinggi, tidak menjamin seseorang bisa memiliki moral yang baik. Namun, ketika anak-anak memiliki moral yang baik, otomatis mereka bisa menilai mana pendidikan yang baik dan buruk,” papar James. Peran orangtua dalam mempersiapkan anak-anak yang memiliki visi dan masa depan, menurut James, sangatlah penting. Lewat orangtua, anak-anak belajar segala sesuatu.

“Pendidikan formal berfungsi melatih anak-anak untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya. Sedangkan dengan pengetahuan moral, anak-anak diajak berpikir dan membangun etika dan karakter dirinya yang baik,” tambah James dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Harapan Kita itu.

Sedikit berbeda dengan James, peserta seminar yang juga pengajar di Jakarta, William Pakpahan mengatakan, pendidikan moral untuk anak-anak bisa dilakukan di rumah, bisa dengan membahas buku-buku cerita bersama orangtua, membaca kitab suci ataupun mendongeng.

“Saya memang seorang pengajar, namun saya tidak yakin di sekolah-sekolah formal anak bisa mendapatkan pendidikan moral yang benar-benar bisa menjamin anak kita menjadi anak yang baik,” kata pengajar yang juga ayah tiga putra ini. Karena itu, lanjutnya, ketika berkumpul dengan anak-anak saya di rumah, saya menanamkan nilai-nilai moral dengan menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci.

Menanamkan pendidikan moral untuk anak-anaknya juga dilakukan William dengan sesering mungkin mengajak anak-anaknya yang masih belia mengunjungi panti-panti asuhan, panti jompo, hingga memberikan sumbangan untuk anak-anak jalanan.

”Pernah suatu waktu anak saya bertanya, mengapa banyak anak kecil menyanyi di lampu merah. Setelah itu, untuk mengetuk hatinya dan menggugah rasa simpatinya, saya mengajak anak saya untuk melihat lebih dekat bagaimana anak-anak kecil itu mencari sesuap nasi,” terangnya.

Mengajak anak langsung menyaksikan kejadian sehari-hari yang membuatnya trenyuh, ternyata sangat mengena di benak anak-anak William. “Sejak itu, mereka tidak pernah lagi membuang-buang nasi ketika makan,” tutur William. Dari pengalaman tersebut, William berkesimpulan bahwa pendidikan moral harus bisa dipraktikkan pada anak-anak, dari rumah hingga di lingkungan sekitar, termasuk di jalanan.

Tahap Perkembangan Moral Anak

1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas
Ketika anak mulai mengenal larangan orangtua, anak cenderung menilai dosa atau kesalahan berdasarkan besar-kecilnya akibat perbuatan yang ditimbulkannya. Misalnya, anak menganggap bahwa menjatuhkan beberapa gelas secara tidak sengaja lebih besar dosanya daripada menjatuhkan satu gelas secara sengaja. Pada tahap awal perkembangan moral, anak tidak memperhitungkan unsur motivasi. Baru pada usia yang lebih besar, ia mulai memahami bahwa kualitas suatu perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar-salah.

2. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi
Pada mulanya seorang anak akan menaati apa yang dikatakan orangtuanya. Inilah kesempatan terbaik orangtua untuk mengajarkan apa yang harus diajarkannya karena masa ini akan cepat berlalu. Setelah itu, anak akan lebih terikat dengan perjanjian-perjanjian. Pada tahap ini, anak akan bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai perjanjian sebelumnya. Karena itu, teriakan ?’curang” sewaktu anak bermain akan terdengar keras ketika peraturan bersama ini dilanggar. Anak juga sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orangtua bila orangtua melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Bagi mereka, orangtua pun seharusnya terikat dengan peraturan yang mereka tetapkan bagi anak-anaknya. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, pada usia remaja akhir anak telah memiliki prinsip moral yang menjadi miliknya pribadi dan yang mengarahkan tingkah lakunya. Anak tidak mudah lagi dipengaruhi lingkungannya. Sebaliknya, anak akan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya.

3. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain
Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. Tujuan suatu perbuatan adalah kesenangan pribadi dan kenikmatan. Bila perkembangan moral anak berjalan baik, barulah pada usia yang lebih dewasa, individu dapat melihat kepentingan orang lain dalam melakukan tindakan moralnya. Bukan itu saja, pengorbanan kepentingan diri dapat dilakukan demi kesejahteraan teman-teman sebayanya. Misalnya dengan membagi permen yang dimilikinya, ataupun mengajak teman-temannya untuk berbagi boneka kesayangan.� (sindo//mbs)