Benar Bakat atau Cuma Senang Sesaat?

23 05 2009

Membedakan bakat dari kesenangan sesaat, dapat dilakukan dengan kepekaan dan kejelian.

Anak balita sudah bisa menunjukkan kesenangannya. Entah suka menari, menyanyi, melukis, atau memainkan alat-alat musik.”Tapi belum bisa dikategorikan berbakat, masih sebatas minat. Kesukaannya juga bisa berubah-ubah, bahkan hilang tanpa bekas,” kata Vitriani Sumarlis, Psi.

Untuk menandai minat atau tidak, sarannya, amati kadar konsentrasi anak di bidang-bidang tertentu. “Apakah memang lebih atau sama dengan anak lain. Untuk itu dibutuhkan kepekaan serta kejelian orang tua. Soalnya, bisa saja minat itu tidak terekspresikan secara jelas karena anak tidak menunjukkan kebisaan menari, melukis, atau memainkan alat musik seperti anak lainnya karena dia malu, misalnya,” ujar psikolog dari Klinik Anakku Cinere, Jakarta Selatan ini. Rangsangan dan dorongan adalah kunci utama untuk menggali minat anak. Sayangnya, orang tua kerap tak tanggap pada minat anak. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki anak dan bisa jadi modal di masa datang, akhirnya tetap terpendam.

Tentu saja tak cukup dengan mengamati. Orang tua harus juga mampu mengobservasi. Misalnya, lewat dialog untuk mengetahui sampai sejauh mana minat anak. “Dari sini akan kelihatan, si kecil serius atau sekadar ikut-ikutan temannya.” Lakukan pula eksplorasi terhadap minatnya. Saat anak terlihat begitu antusias menari, contohnya, beri dukungan dengan ikut menari bersama atau memberikan arahan. “Tarian kamu bagus, deh. Diajari sama siapa, sih?” Kalau anak kian bersemangat, lakukan eksplorasi lebih dalam. Dari situ bisa terlihat, kegiatannya benar-benar didasari minat atau suka sesaat saja. Bila semangatnya tetap tinggi atau malah makin menggebu dan gerak tariannya kian bagus, besar kemungkinan minatnya mengarah ke bakat yang bisa diarahkan lebih mendalam.

Bila benar anak terlihat berbakat, beri arahan lebih intensif seperti memasukkan anak ke sanggar yang tepat. Pilih lembaga yang sifatnya tidak mengajari hal-hal baku yang mesti ditaati, melainkan hanya bertindak sebagai pengarah. “Tanpa segala bentuk pengekangan, bakat anak yang besar, bisa tumbuh optimal sedari kecil.”

Yang tak boleh dilupakan, saat memilih kegiatan, libatkan anak. “Jangan cuma orang tuanya yang ngotot. Anak harus ditanyai juga, apakah ia mau masuk sanggar. Bagaimanapun orang tua tetap harus memberi kebebasan pada anaknya untuk tetap bisa bermain. Kalau ternyata di sanggar itu bakatnya tak tumbuh atau berkembang, “lakukan penilaian kembali. Indikasinya, anak terlihat bosan, ogah-ogahan, atau minta berhenti. Cermati penyebabnya, apakah karena memang tak berminat, tak suka cara mengajar pembimbingnya, atau kondisi sanggar itu tidak kondusif.”

TAK MANUSIAWI

Anak, kata Vitriani, mungkin saja memiliki 2 atau 3 bakat sekaligus. Misalnya, jago gambar dan hitung-menghitung. Bila keduanya sama-sama terstimulasi dengan baik dan ia berminat menjadi seorang arsitek, umpamanya, tak sulit baginya merancang sebuah bangunan unik dan orisinal dengan hitungan berbagai ukuran dan bentuk bagian-bagiannya.

Namun, jika kondisi terbatas sehingga kedua bakat tadi tak bisa didukung semua, pilih yang jadi keunggulan anak. “Bukan berarti bakat atau minat anak dipasung, melainkan agar nantinya lebih terfokus pada salah satu. Ini jauh lebih baik ketimbang semua bakatnya tak berkembang maksimal.”

Yang patut diingat, hindari pemaksaan dalam bentuk apa pun. “Gara-gara pengen anaknya jadi dokter, orang tua memaksakan kehendaknya sementara si anak justru berbakat di bidang seni. Bisa saja, usaha orang tua berhasil, namun dikhawatirkan tak optimal. Misalnya, anak jadi tak peka akan kebutuhan dan kondisi pasien, saat ia jadi dokter kelak.”

Sungguh tidak manusiawi dan tidak menghargai individu bila orang tua memaksakan kehendaknya terhadap anak. “Kalau anak memang punya minat dan bakat di bidang nonformal semisal jadi pelukis, penyanyi, ahli tanaman, atau ahli boga, mengapa tidak? Biarkan anak tumbuh dengan sendirinya. Tentu saja orang tua tetap berkewajiban mengarahkan agar yang dilakukan anak bisa teraih secara maksimal.”

JAMINAN SUKSES?

Seseorang yang memiliki bakat dalam profesinya, rata-rata lebih sukses dibanding rekan seprofesi yang sebenarnya tidak berbakat. Seorang musisi, contohnya, akan lebih sukses bereksplorasi jika dalam jiwanya ada bakat yang dikembangkan secara maksimal. Kendati begitu, Vitriani tidak mengingkari pendapat bahwa bakat cuma 10 persen memenuhi dukungan bagi kesuksesan seseorang. “Mayoritas sisanya merupakan usaha dan kerja keras selain faktor keberuntungan. Jadi, tanpa dibarengi usaha dan kerja keras, bakat pun akan percuma. Jangankan meraih kesuksesan, bakat itu sendiri belum tentu keluar karena mungkin saja malah terpendam.”

Sebaliknya, bakat yang kecil jika dilatih dan diarahkan dengan baik, akan lebih berkembang dibandingkan bakat besar yang tidak terstimulasi dengan baik. “Tentu saja kapasitas maksimal orang tanpa bakat, tidak setinggi orang yang memiliki bakat bawaan sejak lahir,” kata Vitriani. Oleh karena itu, kembangkan bakat anak sejak dini. Jangan tunggu sampai ia menjadi remaja, karena hasilnya tidak akan seoptimal bakat yang distimulasi sejak usia dini.
(tabloid-nakita)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: