Pesulap Cilik

25 05 2009

Tanpa sebab-musabab yang jelas, tiba-tiba Dudi berlari ke arah Ina.
“In, ada sesuatu di rambutmu !” seru Dudi. Keruan saja Ina terkejut. Mengira di rambutnya ada ulat, atau lebah, atau hewan kecil lainnya. Tak tahunya, setelah dekat Dudi mencolek ujung rambut Ina seraya berteriak, “Sim salabim!” Tahu-tahu muncul setangkai bunga merah di tangan Dudi. Seolah ia mengambilnya dari rambut Ina. Ina tersipu, walau masih terkejut.

“Ah, dasar tukang sulap!” kata Ina. Ia pun berterima kasih ketika bunga itu diberikan kepadanya.
“Eh, Di. Kalau mau menyulap bilang-bilang dulu. Biar kami bisa menonton kehebatanmu!” usul Lusi, juga teman sekelas Dudi.
“Beres, Lus! Nih, aku mau bermain sulap. Sim salabim!” ucap Dudi sopan sekali. Lantas, secepat kilat ia mencolek lengan Lusi. Seakan mengambil bros berbentuk kupu-kupu dari situ. Bros itu pun diberikan kepada Lusi.
“Kok bisa sih, Di? Kamu tadi menyimpannya di mana?” desak Lusi.
“Masa kamu tidak merasa, Lus? Aku tadi menyimpannya di lenganmu,” kilah Dudi. Tentu saja ia merahasiakannya.
Di dalam kelas pun Dudi sering beraksi. Lumayan untuk menghibur teman-teman dan gurunya.
“Dudi, tolong ambilkan kapur dari Ruang Guru!” pinta Ibu Guru. Kapur tulis di dalam kelas memang habis.
“Oh, pantas kotak kapurnya kosong. Anwar menyimpannya di punggungnya, Bu!” gurau Dudi membuat teman-teman dan gurunya kaget.
“Kamu ini aneh, Di!” gerutu Anwar.
“Mana mungkin kapur bisa disimpan di punggung?” ujar Ibu Guru bingung.
“Silakan lihat buktinya!” ujar Dudi.
Lagi-lagi Dudi beraksi. Dari bagian belakang kerah baju Anwar ia menarik satu persatu kapur tulis, “Satu, dua, tiga, empat” Banyak sekali kapur yang seolah ia ambil dari punggung Anwar. Jumlahnya lebih dari sepuluh batang. Keruan saja seisi kelas tertawa dan kagum.
“Sudah! Tertawanya cukup. Adegan sulapnya bisa dilanjutkan lagi nanti saat istirahat. Sekarang, buka buku pelajaran kalian!” Ibu Guru menenangkan muridnya.
Atraksi-atraksi Dudi lumayan menarik untuk mengurangi ketegangan saat belajar. Teman-temannya pun tidak merasa bosan di dalam kelas. Sebab, Dudi suka bikin kejutan.
Akan tetapi, anak sekelas jadi heran ketika Ibu Guru meminta Dudi menghadap di Ruang Guru saat istirahat nanti. Semua menduga, Dudi bakal dilarang beratraksi sulap di kelas. Bahkan, mungkin akan dimarahi. Padahal, mereka tidak terganggu oleh atraksi sulap Dudi. Ah, semua merasa kasihan pada Dudi!
Saat istirahat, Dudi masuk ke Ruang Guru. Sebentar kemudian ia keluar. Teman-temannya sudah menunggu di depan pintu.
“Bagaimana, Di? Kau dimarahi Ibu Guru?” tanya Anwar.
“Dimarahi? Siapa yang dimarahi?” Dudi balik bertanya. Ia lalu menjelaskan. Ibu Guru justru menawarinya main di atas pentas malam Minggu mendatang. Sebuah perusahaan swasta akan mengadakan pesta ulang tahun. Kebetulan, suami Ibu Guru, bekerja di perusahaan itu dan menjadi panitia pesta. Acara hiburannya adalah musik, tari, dan sulap. Tentu Dudi menyanggupinya.
Mendengar cerita itu, Anwar, Lusi, Ina dan teman-teman lainnya saling pandang. Sampai kemudian Anwar bicara.
“Sebenarnya, beberapa hari ini aku dan teman-teman membicarakan hal serupa,” aku Anwar. Maksudnya, Anwar hendak menawari Dudi bermain sulap. Pada hari Minggu siang. Saat itu ada acara lomba lukis anak. Ayah Anwar menjadi ketua panitianya. Anwar mengusulkan agar acara hiburan selingan diisi atraksi sulap oleh Dudi. Ayah Anwar setuju.
“Nah, sekarang tawaran itu aku sampaikan padamu, Di. Mumpung jadualmu belum terlanjur penuh, ha… ha…” tawa Anwar.
“Oke, oke! Tawaran seperti itu mana mungkin aku tolak,” Dudi menyambut gembira. Dipandanginya teman-temannya dengan senyuman khasnya, “Terima kasih, ya! Kalian baik sekali. Ikut memikirkan, bagaimana supaya kemampuan sulapku bisa berkembang,” sambung Dudi terharu.
“Kau juga baik kok, Di! Karena menghibur kami setiap hari,” balas Lusi.
Percakapan anak-anak di depan Ruang Guru itu terhenti, saat bel berbunyi. Semua masuk ke dalam kelas dengan gembira. Apalagi Dudi, si pesulap cilik. Hatinya penuh dengan suka cita. Sebab, malam Minggu serta Minggu siang yang akan datang, ia akan mulai tampil di panggung. ****

Oleh Joko Purwanto (Bobo No. 36/XXVII)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: