Bermain Perlu Untuk Mendorong Kreativitas Anak

26 05 2009

Akhir-akhir ini muncul gejala anak- anak usia Taman Kanak-kanak sudah dibebani dengan kurikulum yang memaksa untuk belajar. Mengapa demikian? Di Jakarta dan di kota besar lainnya di Indonesia, anak-anak harus melalui tes untuk masuk ke SD terutama yang SD favorit. Selain itu begitu duduk di Kelas I langsung menerima
pelajaran membaca, menulis, berhitung dan ada tes atau ulangan.. Inilah yang membuat seakan-akan TK adalah pra-SD tidak pada fungsi sosialisasi dan pengembangan kreativitas anak, tapi lebih ditekankan pada belajar. Orang tua juga menjadi tegang bila melihat
anak-anak bermain terus, karena banyak PR yang belum dikerjakan. Seringkali orang tua cemas bila anaknya lebih senang bermain, dan dianggap malas belajar.

Dunia anak adalah bermain
Papalia (1995), seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human Development, mengatakan bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi
dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain,
fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.

Kenyataan yang terjadi, saat ini anak umur 1,5 tahun sudah mulai masuk Kelompok Bermain atau pra TK. Kemudian masuk TK, yang kebanyakan bukanTaman Kanak-kanak tempat anak bermain, tetapi menjadi tempat mengajar anak membaca, menulis dan berhitung. Setelah masuk SD, aanak-anak langsung mendapat beban bersekolah dengan waktu yang lebih panjang. Pulang sekolah anak masih harus mengikuti bermacam-macam les, misalnya kumon, sempoa, menggambar, balet, piano, komputer.

Orangtua sekarang ini seringkali sangat ambisius terhadap anak-anaknya, mereka ingin anaknya sepintar mungkin, dan diwujudkan dengan mengikutkan anak pada berbagai macam les untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan yang telah diperoleh
anak di sekolahnya. Hal tersebut memang tidak salah, namun kebutuhan anak untuk bermain hendaknya jangan diabaikan karena bermain adalah hal yang penting bagi perkembangan fisik dan mental anak.

Lima unsur dalam bermain
Menurut Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and Development, mengatakan bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur didalamnya, yaitu:

  • Mempunyai tujuan yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan
  • Memilih dengan bebas dan tas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.
  • Menyenangkan dan dapat menikmati.
  • Mengkhayal untuk mengembangkan daya imaginative dan kreativitas
  • Melakukan secara aktif dan sadar.

Pendapat dari pakar pendidikan lain, bermain adalah kegiatan anak yang menyenangkan dan dinikmati (pleasurable and enjoyable). Bermain dapat menggunakan alat permainan ataupun tidak. Contoh: Bermain lego atau hanya berlari-lari di halaman sambil bernyanyi adalah sama, keduanya bermain.

Manfaat Bermain
Pendapat dengan belajar anak bisa pintar, kalau main terus-terusan anak tidak bisa pintar dapat dianggap benar bila hanya memperhatikan satu aspek saja yaitu penekanan pada . kepintaran yang berhubungan dengan kemampuan membaca, menulis
dan berhitung. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ada hal lain yang penting dan dibutuhkan, yaitu kemampuan berkomunikasi, memahami cara pandang orang lain, dan bernegosiasi dengan orang.
Bermain dapat memberi manfaat bagi anak untuk melatih kemampuannya sejak dini, yaitu:

  • Kemampuan berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya.
  • Kemampuan mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki tentang dunia dan kemudian juga sekaligus bisa mendapatkan pengetahuan baru, dan semua dilakukan dengan cara yang menggembirakan hatinya.
  • Kemampuan merasakan ketakutan-ketakutan dan kegembiraannya.
  • Kemampuan mengembangkan kreativitas anak, dengan munculnya ide-ide dari pikiran anak-anak, walaupun kadang-kadang terasa abstrak bagi orangtua.
  • Kemampuan untuk menghadapi stress, karena dengan bermain sering merasakan gagal atau dikalahkan teman.

Orang tua perlu memahami bahwa bermain sangat penting bagi tumbuh kembang anak disamping belajar. Untuk itu orang tua perlu memperhatikan beberapa hal yaitu;

  • Memberi kesempatan anak-anak bermain
  • Menyediakan waktu untuk ikut bermain bersama anak, agar dapat memahami kemauan dan kemampuan anak, mengetahui hal apa yang dapat menggembirakan dan apa yang menakutkan.
  • Mendukung kreativitas permainan anak
  • Menjaga agar dalam permainan tidak terdapat hal yang atau membahayakan diri sendiri dan orang lain.

(dari berbagai sumber/jp/mr/devi)


Actions

Information

2 responses

15 11 2009
rinna

thx ya artikelnya, bermanfaat banget.:)

9 12 2009
Media Surviva

sama-sama, terima kasih juga atas kunjungannya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: