Ibu, Jangan Marahin Aku, Yaa…

10 06 2009

Di usia prasekolah, anak sudah bersosialisasi dengan orang luar. Ini berarti, ia punya pilihan antara dunianya sendiri dengan dunia luar. Di satu pihak, ia mulai mengembangkan kemandiriannya seperti, “Ini punyaku!” atau “Saya maunya ini!” Tetapi di lain pihak, ia pun harus mulai belajar tentang aturan-aturan dasar perilaku yang diterapkan lingkungannya. Akibatnya, seringkali sikapnya bertolak belakang dengan apa yang diharapkan orang tua. Nah, teguran datang karena orang tua melihat ada perilaku anak yang tak disukai dan orang tua ingin menghentikannya.

Namun, menegur anak usia prasekolah harus dilakukan secara hati-hati. Mengapa? Karena kecerdasan mereka sudah meningkat. Mereka sudah belajar sebab-akibat, sehingga bila mereka ditegur tanpa tahu penyebab dan apa akibatnya, teguran hanya membuat mereka bingung.

Bukan cuma itu, bila cara kita salah dalam menegur, anak bisa kehilangan kepercayaan diri, tak berinisiatif dan minder. Pasalnya, bila anak sering ditegur berarti dia banyak dicela. Dampaknya, anak jadi memiliki konsep diri negatif sehingga membuatnya tak percaya diri, takut salah dan tak berani tampil. Karena takut salah, otomatis kebutuhan anak untuk menjelajah, berinisiatif dan memupuk rasa ingin tahu jadi terhambat. Anak jadi tak punya inisiatif dan tak punya pendirian.

Belum lagi jika teguran yang diterima bersifat inkonsisten, artinya tak ada kesesuaian antara standar yang diterapkan ayah dengan standar ibu. Akibatnya, anak merasa kebingungan, standar apa yang hendak diterapkanya. Alih-alih, si anak malah bersikap cuek dan makin lama ia tak peduli dengan teguran yang diterimanya. Jadi sedikit demi sedikit, ia tak punya lagi standar perilaku dalam kehidupannya.
Selain itu, bila anak selalu ditegur dengan nada tinggi, lama- kelamaan akan timbul kemarahan dalam dirinya yang membuatnya merasa menjadi pribadi yang sia-sia.
Itulah mengapa, orang tua harus hati-hati kala menegur si prasekolah. Berikut ada 8 hal yang harus diperhatikan orang tua saat menegur anak.

1. JAGA NADA BICARA

Hindari nada tinggi, menghardik, menjerit, memaki atau merendahkan pada saat menegur. Gunakan bahasa yang lemah lembut tapi tegas. Contoh, si kecil tetap asyik nonton TV sementara kita sudah memintanya beranjak ke ruang makan. Katakan, “Kak, Ibu bilang ini waktunya makan. Ayah sudah duduk di meja. Ibu juga. Kalau kakak enggak berhenti juga, berarti semua enggak makan.”

Dengan cara ini, kita pun mengajarkan konsekuensi logis pada anak. Misal, karena sudah disepakati, bila makan malam semua berkumpul di meja makan untuk makan, maka tidak hadirnya satu orang anggota keluarga saja, dapat menyebabkan orang lain tak makan. Kita dapat memberikan penjelasan konsekuensi tambahan bila seluruh anggota keluarga menunda makan hanya karena si kecil memilih lebih asyik nonton TV.

2. TEGURLAH PERBUATANNYA

Ketika menegur anak, bersikaplah objektif dengan menyebut kesalahannya. Artinya, jangan hanya menegur, “Kakak malas, ya!” tanpa menyebutkan apa kesalahannya.
Anak harus diberi tahu tindakannya salah, sehingga anak tahu bahwa perilakunya merupakan kesalahan. Bila si kakak selalu malas mengembalikan mainannya ke kotak mainan, misal, katakan, “Kak, coba lihat, kalau mainannya tidak dibereskan, jadi berantakan, bukan? Nanti kalau ada yang terinjak, malah jadi rusak, lo. Ayo, kita bereskan.”
Hindari sikap menyamakan setiap tingkah anak, seperti ucapan “kamu selalu bikin marah” atau “sering” tanpa menyebut tindakan apa yang salah.

Mendengar kata-kata ini, anak malah akan menganggap segala perilakunya tak ada yang benar. Bukannya berusaha berbuat baik, sebaliknya anak justru terdorong untuk bertingkah salah terus. “Buat apa bertingkah baik, paling aku tetap disalahkan,” begitu pikir anak.
Jangan bosan meminta anak melakukannya lagi bila esok ia “lupa” melakukannya. Yang penting “teguran” itu dilakukan dengan lemah lembut dan disertai contoh.

3. JANGAN DITUNDA

Tegurlah segera saat melihat anak melakukan kesalahan. Jangan menunggu kejadian itu kedaluwarsa. Misal, anak melakukan kesalahan dua hari lalu, tapi baru sekarang ia ditegur. Hal ini kurang efektif karena anak mungkin sudah lupa kesalahan yang dilakukannya. Lebih efektif bila anak ditegur langsung saat ia melakukan kesalahan.

4. JANGAN DI DEPAN ORANG LAIN

Ada beberapa orang tua yang menunda memberi teguran anak di hadapan orang lain karena khawatir dapat menimbulkan rasa malu dan memukul harga diri anak. Ini tindakan yang bijak karena anak usia prasekolah memang sudah memiliki kesadaran yang menyangkut harga diri. Anak minta dihargai dengan cara tak dipermalukan di depan orang lain. Lebih baik, lakukan teguran setelah sampai di rumah.

Seandainya kita terpaksa melakukannya, sampaikan teguran dengan lemah lembut. Jangan bandingkan dengan anak lain yang mungkin ada di sekitar situ. Umpama, anak memainkan minumannya ketika diajak bertamu ke rumah saudara. Katakan dengan lembut tapi tegas, “Kak, minuman itu diminum saja, ya. Jangan dibuat mainan. Tante, kan, sudah membuatkannya untuk kita. Ayo, kita minum.”

5. KONSISTEN

Kalau suatu saat kita menetapkan aturan, “Kamu enggak boleh nonton TV kalau belum mandi”, hendaknya penegasan tersebut harus berlaku dalam kondisi apa pun. Artinya, saat kita melihat si anak nonton TV padahal belum mandi, kita harus segera menegurnya. Jangan misalnya hari ini kita mendiamkannya, tapi pada kesempatan lain ia melakukannya, kita langsung menegur. Hal ini akan membuat anak bingung tentang standar perilaku yang dibuat bersama.

Begitupun, ayah dan ibu harus konsisten menerapkan satu peraturan yang sama. Jangan ibu melarang, tapi ayah membolehkan. Hal ini membuat anak bingung. Anak juga cenderung “mengadudomba” ayah dan ibu. Kalau dilarang ibu, dia akan lari ke ayah karena merasa ada yang membelanya. Atau sebaliknya, lari ke ibu saat dilarang oleh ayah. Akibatnya, hubungan ayah dan ibu juga terganggu lantaran ketidakkonsistenan ini.

6. JANGAN BERLEBIHAN

Teguran yang berlebihan hanya akan membuat anak merasa selalu disalahkan, sementara ia sama sekali tak mendapatkan pelajaran apa pun dari kesalahan yang sudah dilakukannya. Bukan cuma itu, anak juga akan merasa diperlakukan tidak adil sehingga memupuk keinginan untuk memberontak. Dalam bahasa lain, tujuan akan adanya perubahan perilaku yang diharapkan dengan pemberian teguran malah tak tercapai.
Contoh, kita menegurnya karena main game saat hari “sekolah” lalu kita menegurnya juga ketika dia main game di hari minggu yang notabene hari libur. Lebih baik, buat kesepakatan terlebih dulu, kapan boleh main game, ketimbang Anda bolak-balik menegurnya.

7. JANGAN DISERTAI ANCAMAN

Saat memberi teguran, orang tua jangan menyertainya dengan ancaman, semisal, “Kalau kamu masih nonton TV, Bunda enggak mau nemenin kamu lagi tidur di kamar.” Bisa dibayangkan, ancaman penolakan ini akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang orang terdekatnya. Untuk selanjutnya, ia mungkin jadi anak yang tak percaya diri lagi.

Meski demikian, pada saat menegur, bila perlu, kita boleh memberikan sanksi. Anak juga harus belajar, bila teguran tak diindahkan, ia akan menerima konsekuensinya. Contoh, “Kalau mainanmu tercecer di mana-mana, nanti bisa hilang. Kalau terus hilang, lebih baik Bunda tak membelikan mainan lagi.” Jadi, bila benar mainannya ada yang hilang tercecer, tunda dulu membeli mainan baru, sehingga anak bisa merasakan, “Oh iya, mainanku nggak dirapiin, jadi hilang. Sekarang aku nggak dapat mainan baru, deh.”

8. JANGAN LUPA MEMBERI REWARD

Jangan cuma memberi teguran, tapi lupa memberi pujian. Karena teguran dan hadiah merupakan modal dasar agar anak punya disiplin dan kemandirian individu.
Reward ini tak selalu harus berupa pelukan atau hadiah, tapi bisa juga berupa pujian. Bila anak malas mengembalikan mainannya, kita boleh menegur. Tetapi kalau kita lihat ia dengan sigap selesai mengembalikan mainannya, jangan lupa menyelipkan pujian. “Waduh, Kakak pintar, deh, mainannya sudah dibereskan. Tuh, rapi, kan. Asyik, besok kalau mau main lagi, enggak perlu cari-cari di kolong lemari.”

Atensi sekecil apa pun merupakan reward. Atensi yang diterima dari lingkungan menjadikan anak sebagai pribadi yang periang, mampu berempati dan kreatif. Sebaliknya, anak yang tak pernah/jarang menerima penghargaan dari lingkungannya, umumnya kelak menjadi pribadi yang memprihatinkan. Ia menjadi seorang yang kesepian dan hopeless karena hidupnya tak memberi makna pada diri sendiri maupun orang lain.

Santi Hartono. /nakita


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: