Menjauhkan Anak dari Risiko Alergi

13 07 2009

Riwayat alergi biasanya bermula dari masa kanak-kanak. Meski bukan penyakit yang mematikan, sekali mengidap alergi akan sulit seseorang melenyapkan gangguan ini yang ujung-ujungnya bisa menghambat aktivitas.

Nah, agar tak keterusan mengidap alergi, sebaiknya orang tua mewaspadai gejala alergi pada anak sejak dini. Karena pencetus alergi bisa dari beragam faktor.

Alergi atau kata lainnya hipersensitif merupakan reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal terhadap berbagai rangsangan atau zat dari luar tubuh seperti makanan, debu, obat.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan alergi, pertama faktor genetik yang diturunkan atau rasial atau gen. Kedua, lingkungan berupa alergen, infeksi, polusi, aktivitas fisik atau emosi. Ketiga, imunologi terkait dengan sistem imun yang tidak normal.

Dr Zakiudin Munasir SpAK, ahli alergi imunologi bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam seminar bertajuk ‘Apakah Alergi Diturunkan Pada Anak?’ menunjukkan angka kejadian alergi di Indonesia yang semakin meningkat.

Walaupun belum ada angka pastinya, namun beberapa peneliti memperkirakan bahwa peningkatan kasus alergi di Indonesia mencapai 30% per tahunnya. Data dari RSCM/FKUI menunjukkan, angka penderita asma di Indonesia mencapai 8,2%, alergi hidung 17,5%, dan eksim 2,5-4%. Salah satu rumah sakit di Bandung pun mengabarkan bahwa per bulannya terdapat 20-30 penderita alergi yang berobat, sisanya masih belum diketahui.

Data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memperlihatkan bahwa penyebab alergi terbesar yang berasal dari makanan adalah susu (4,1%), sisanya dari telur, kacang-kacangan (tanah, kedelai), seafood, udang dan gandum.

Faktor yang berperan dalam mekanisme alergi adalah Imunoglobulin E (IgE). Zat asing yang masuk ke dalam tubuh jika menempel pada sel mast (pada usus) akan ditangkap oleh IgE dan menyebabkan keluarnya histamin.

“Zat histamin itulah yang menyebabkan alergi,” ucap Zakiudin.

Namun alergi baru akan terjadi jika kontak dengan IgE terjadi secara berkala. Artinya jika seseorang baru pertama kali mengonsumsi makanan atau berada dalam lingkungan yang menyebabkan alergi maka gejala alergi tidak akan langsung muncul.

Menurut Zakiudin, seorang anak berisiko lebih besar terkena alergi jika memilki riwayat keluarga alergi. Karena alergi bisa diturunkan secara genetik dari ibu, ayah, kakek, tante, paman, dan anggota keluarga lainnya meski alergi yang diderita dalam keluarga besar tersebut bisa saja berbeda-beda.

Faktor risiko terbesar lainnya berasal dari rokok. Ibu hamil yang merokok berisiko besar melahirkan anak yang alergi.

Walaupun alergi bukan penyakit mematikan, Zakiudin mengamini kehadiran si pengganggu ini akan sangat menghambat aktivitas anak.

Rasa gatal, bersin terus menerus, pilek, muntah-muntah, dan sakit kepala adalah gejala klinis yang membuat sang buah hati menderita.

Anak yang mengalami gejala ini biasanya sering gatal-gatal, bersin-bersin, mengusap-usap hidung ke arah atas, memiliki garis dennie (dennie’s line) dan kantung di pelupuk mata, atau di bagian lidah atasnya terlihat seperti peta.

Satu-satunya cara menghindari gejala tersebut adalah dengan mengontrol lingkungan sekitarnya, karena menurut Zakiudin, alergi tidak dapat disembuhkan.

“Bahkan jika penyakit alergi sewaktu kecilnya sudah sembuh, ketika dewasa dapat kambuh lagi jika makanan atau lingkungannya tidak terkontrol,” jelasnya.

Terkait pengobatan alergi, dokter biasanya memberikan obat-obatan seperti antihistamin dan kortikosteroid (baik yang diberikan lewat mulut, suntikan, maupun inhalasi) untuk memperkuat dinding sel mast dalam tubuh pasien. Dosis awal antihistamin umumnya 1 tablet setiap 4 – 6 jam sehari sesudah makan dan sebelum tidur.

Namun yang harus diwaspadai dan dihindari adalah penggunaan antihistamin yang dikombinasikan dengan obat-obat penenang atau obat-obat yang bekerja menekan sistem syaraf pusat seperti luminal dan diazepam, sebab kombinasi tersebut dapat mengadakan potensiasi, sehingga dapat terjadi efek penekanan sistem syaraf pusat secara berlebihan.

Berikut tips mencegah alergi pada anak :

  1. Kenalilah gejala alergi pada anak, hindarilah faktor-faktor yang menyebabkan gejala tersebut.
  2. Sebisa mungkin hindari makanan yang mengundang alergi.
  3. Gunakanlah kain/pakaian bersih untuk menghilangkan debu/kotoran,
  4. Gunakanlah sprei bersih. cuci sprei dan gantilah pemakaiannya minimal seminggu sekali.
  5. Jangan menggelar karpet/bahan-bahan yang berbulu jika anak anda alergi debu/bulu.
  6. Hindari dan kurangi tempat-tempat lembab dari jangkauan anak, karena debu, jamur, dan tungau senang bersarang di tempat-tempat yang lembab.
  7. Berolahragalah secara rutin untuk memperkuat daya tahan tubuh.
  8. Tingkatkan konsumsi vitamin C dan kalsium .
  9. Temui dokter jika mulai merasakan gejala-gejala alergi.

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: