Anak Perlu Belajar Asertif

18 07 2009

Sikap asertif tidak hanya membutuhkan kemandirian dan kemampuan berkomunikasi anak, tapi juga kesiapan mental orang tua.

Dika (5), sebut saja namanya demikian, dengan muka merah dan terisak-isak menghampiri ibunya. Dia mengatakan baru saja mainannya direbut sang teman. Bukan kali ini saja Dika mengalami hal tersebut, beberapa hari lalu, ia juga menangis meraung-raung karena ledekan teman-temannya. Ibunya terheran-heran, mengapa sang anak begitu mudahnya terpedaya.

Lain halnya dengan Reni (4), ia sepertinya tak mau lepas dari sang ibu. Saat belanja di mal, ia menyerahkan pilihan bajunya kepada sang ibu. Begitu juga dengan menu makanan sehari-hari di rumah. Ia sepertinya tidak punya makanan atau baju favorit.

Henny E. Wirawan, Psi. M.Hum., menjelaskan, Dika dan Reni merupakan dua sosok anak yang belum bisa bersikap asertif. Hal itu terlihat dari ketidakmampuan mereka dalam mengungkapkan sesuatu yang disukai dan tidak disukai secara terus terang kepada orang lain. Mereka juga tidak bisa melepaskan ketergantungannya kepada orang lain.

APAKAH ASERTIF?

Lebih lanjut, psikolog dari Universitas Tarumanagara, Jakarta ini menjelaskan, sikap asertif merupakan sikap berani untuk mengungkapkan dan mempertahankan hak atau kepentingannya, tanpa merugikan atau menyakiti orang lain. Jadi, sikap asertif adalah sikap yang terletak di antara dua sisi, yaitu pasif dan agresif.

Yang dimaksud sikap pasif adalah sikap diam anak, anak pasrah apa yang terjadi terhadapnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat orang lain memperdayainya. Sementara sikap agresif yaitu sikap yang ditandai oleh keinginan anak untuk menyerang atau mengganggu anak lain. Setiap kali melihat mainan orang lain, dia langsung ingin merebut, misalnya. Nah, dalam hal ini, sikap asertif terletak di tengah-tengah kedua sikap itu. Anak tidak berdiam diri saat dirugikan atau diberi sesuatu yang tak sesuai keinginannya, tapi juga tidak menyerang orang lain. Tegasnya, win-win solution. Masing-masing merasa diuntungkan.

Untuk bersikap asertif, anak mesti memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Itulah mengapa, di usia prasekolah anak-anak sudah bisa dikenalkan dengan sikap ini, karena kemampuan berbahasa mereka sudah berkembang dengan baik, disamping perbendaharaan kosakata yang sudah semakin kaya. Hal ini berbeda dengan anak-anak batita yang belum bisa menyampaikan dan mengungkapkan keinginannya secara jelas.

Sikap asertif ini juga berkaitan erat dengan kemandirian anak. Anak yang mandiri biasanya tidak terlalu mengandalkan orang lain. Ia sudah bisa menentukan apa-apa yang disukainya dan yang tidak, atau dengan kata lain, ia sudah bisa mengekspresikan sesuatu yang tidak diinginkannya lewat kata-kata. Pandangan terhadap dirinya juga positif. Pada anak-anak balita ditandai dengan sifat otonomi, yang berarti aku bisa melakukannya sendiri.
Sementara anak yang kurang mandiri biasanya selalu merengek-rengek meminta bantuan dan pertolongan orang lain. Ia tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Saat jam makan tiba, misalnya, dia harus disuapi. Tidak hanya menyangkut masalah-masalah fisik saja, tapi juga masalah-masalah psikis, seperti tanggung jawab dan kepercayaan diri. Anak-anak kurang mandiri biasanya memiliki rasa percaya diri yang juga kecil. Itulah sebabnya, anak harus diasah kemampuannya untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri.

Sayangnya, pola asuh yang salah seringkali tidak memberi kesempatan anak untuk bersikap mandiri. Sebetulnya, sikap orang tua yang selalu mendikte, menganggap anak tidak tahu apa-apa, juga selalu memenuhi kebutuhan anak tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan, merupakan sikap-sikap yang bisa menghambat kemandirian anak.

Akibatnya, anak pun keenakan dan akhirnya selalu minta dilayani orang tua. Sementara orang tua sendiri secara tidak sadar terus-menerus memenuhi keinginan anaknya. Dampaknya, anak menjadi tidak percaya diri terhadap apa yang dilakukannya. Saat orang tua menanyakan baju apa yang mau dibeli atau anak mau makanan apa, maka anak hanya menjawab pendek, “Terserah, deh.” Atau “Yang mana saja boleh.”
Memang, saat berada di rumah, ketidakmampuan anak untuk bersikap asertif tidaklah menimbulkan masalah, tapi saat anak harus ke luar rumah dan bergaul dengan teman-teman sebayanya, barulah timbul masalah. Bagi anak-anak yang kurang mandiri, saat-saat ia harus menentukan sendiri suatu keputusan sementara orang-orang terdekatnya tidak ada di tempat, rasanya bagaikan suatu siksaan. “Anak juga akan kebingungan bagaimana kalau ada anak yang menyakiti, ke mana ia harus mengadu?” Akibatnya, anak mudah dijadikan korban oleh teman-temannya. Bukan tidak mungkin anak akan minder dan enggan bergaul, bahkan enggan bersekolah bersama teman-teman lainnya.

BERDAMPAK HINGGA DEWASA

Sikap kurang mandiri dan tidak bersikap asertif ini tidak hanya kita temukan pada anak-anak saja, lo, tapi juga pada orang dewasa. Banyak sekali orang dewasa yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya, padahal dirinya sendiri dirugikan. Misalnya, saat dia memesan baju yang tidak disukainya, maka dia tidak mengembalikan baju itu dan menggantinya dengan pilihannya. Dia hanya berkata, “Sudah, deh, diambil saja daripada ribut.” Atau, “Enggak enak, ah, nanti dia marah lagi.”

Padahal, sikapnya itu secara tidak sadar telah merugikan dirinya sendiri. Sebab, ia bisa mengutarakan keinginannya secara baik-baik tanpa harus menyinggung orang yang membuat baju itu. “Kata-kata ‘enggak enak, ah; biarin saja; aduh kasihan; ataupun nanti tersinggung, merupakan kata-kata yang cenderung mengalah alias tidak asertif.”

Nah, sikap tidak asertif ini bisa jadi lanjutan dari masa kanak-kanaknya. Bila hingga dewasa ia tidak bisa asertif pula, maka kepada pasangan di dalam rumah tangga atau kepada rekan kerjanya di kantor pun ia tak bakalan bisa asertif.

DIDIK ANAK AGAR MANDIRI

Itulah mengapa, saran Henny, bila ingin anak bisa bersikap asertif, maka anak harus dididik mandiri. Untuk itu ada hal-hal yang harus dilakukan dan tak boleh dilakukan orang tua.

* Hal-hal yang harus dilakukan orang tua:

1. Biarkan Anak Mengerjakan Sendiri

Caranya dengan membiarkan anak mengerjakan pekerjaan ringan tanpa bantuan orang tua, seperti memakai baju sekolah atau sepatu sendiri. Dengan begitu, anak akan terlepas dari ketergantungan pada orang tua, selain juga mengasah kepercayaan dirinya.

2. Hilangkan Rasa Kasihan
Banyak orang tua yang merasa kasihan melihat anaknya bersusah payah menalikan sepatu atau juga melihat anaknya makan belepotan, yang kemudian memberikan bantuannya. Padahal, sikap kasihan orang tua membuat

ketergantungan pada diri anak. Atau, ada juga orang tua yang seharian sibuk bekerja sehingga pada saat ada kesempatan bertemu dengan anaknya langsung memberikan bantuan habis-habisan kepada si anak.

3. Libatkan dalam Pengambilan Keputusan

Saat hendak membeli barang atau mainan si kecil, tidak ada salahnya orang tua melibatkan anak dalam pemilihan keputusan. Seperti saat hendak membeli mainan mobil-mobilan, maka orang tua bisa menanyakan kepada anak, model, warna dan jenis yang disukai anaknya. Meski begitu, orang tua juga memiliki hak untuk menanyakan kepada anak, mengapa ia memilih mainan tersebut. Jika suatu saat pilihan anak keliru, misal memilih mainan yang gampang rusak, maka anak mesti bertanggung jawab atas pilihannya. Jadikan hal itu menjadi pengalaman berharga. Cara ini bisa membuat anak merasa dihargai.

4. Ajarkan Anak Untuk mengungkapkan Emosinya

Biarkan anak mengungkapkan sesuatu yang disukainya dengan perasaan senang dan gembira. Selain juga anak mesti bisa mengungkapkan emosi negatifnya, seperti marah dan kesal. Asal, ungkapan emosi itu dilakukan sesuai dengan tempatnya. Cara ini bisa membuat anak bisa mengekspresikan ketidaksukaannya kepada orang lain, misal saat mainannya direbut, anak bisa mengatakan, “Kembalikan mainan saya, saya tidak suka kamu berbuat seperti itu.”

5. Hargai Kepentingan Diri Sendiri

Banyak anak yang merasa tidak enak kepada teman-temannya, sehingga ia pun selalu merasa harus berbagi. Tentu di satu sisi, sikap mau berbagi ini bagus, tetapi di satu sisi juga bisa saja merugikan dirinya sendiri, seperti membagikan semua kuenya kepada anak-anak lain sementara dia sendiri tidak kebagian. Atau, ia tidak kuasa menolak keinginan teman-temannya bermain, padahal dia sedang dalam keadaan sakit. Di sini orang tua perlu menjelaskan kepada anak agar mencintai kepentingan atau hak miliknya sendiri. Jangan sampai mengorbankan diri sendiri terus demi orang lain.

6. Dilatih Berkomunikasi

Anak-anak mesti dilatih untuk berkomunikasi, mengatakan sesuatu yang disukai atau tidak disukainya. Saat pulang sekolah, tidak ada salahnya jika orang tua menanyakan pengalaman anak di sekolah. Jika anak berkata, “Mainan saya direbut, tapi saya diam saja.” Maka orang tua bisa berkata, “Mengapa kamu diam, kamu bisa mengatakan tidak suka kepada temanmu itu.”

7. Anak Baik

Banyak persepsi yang salah dari orang tua tentang anak yang baik. Orang tua menganggap anak yang baik adalah anak yang selalu tenang dan diam saat menghadapi masalah. Padahal, anak yang baik adalah anak yang percaya diri dan bisa mengungkapkan keinginannya dengan baik.

* Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua, di antaranya:

1. Mendikte

Dikte membuat rasa percaya diri anak menjadi lemah, sebab ia tidak mau susah-susah berbuat sesuatu. Toh, orang tuanya akan menyediakan dan memberikan bantuan untuknya. Dengan alasan waktu, orang tua cenderung memilihkan sesuatu buat anaknya. Akibatnya, saat orang tua tidak ada di dekatnya, anak akan kehilangan kepercayaan diri. Saat ditanya apa maunya, ia akan berkata, “Tidak tahu.”

2. Sikap Otoriter

Pola asuh yang otoriter membuat anak-anak tertekan dan tidak bisa mengekspresikan kemauannya. Ia cenderung menjadi penakut. Itulah mengapa, saat sang teman merebut mainan miliknya, ia akan cenderung berdiam diri.

3. Tertutup

Orang tua yang senantiasa tertutup, membuat anak-anak juga sulit mengungkapkan emosinya, terutama emosi negatifnya. Apalagi jika orang tua sering berkata, “Ayo, anak Mama, enggak boleh marah-marah, lo.” Dampaknya, anak menganggap emosi negatif adalah sesuatu yang sangat buruk. Akibatnya dalam situasi yang tepat untuk mengungkapkan emosinya pun, anak tidak bisa berbuat apa-apa.

4. Membantu Berlebihan
Menganggap anak sesosok makhluk lemah yang tidak berdaya dan tidak berbuat apa-apa membuatnya tidak percaya diri. Ia juga akan selalu menggantungkan segala sesuatunya kepada orang tua. Bukan tidak mungkin lagi anak akan tetap meminta bantuan orang tua meski dirinya mampu mengerjakan hal itu sendirian.

5. Jangan Beri Pujian Bagi Si Pasif

Banyak orang tua yang memberi pujian kepada anak-anak yang tenang dan pasif. Padahal itu bisa membuat anak tak berdaya. Sebaliknya, anak yang aktif justru menjadi bulan-bulanan kemarahan orang tua.

PERLU KESIAPAN ORANG TUA

Tentu saja, agar tak kebablasan, orang tua juga perlu memberikan rambu-rambu sikap asertif kepada anak. Pertama, harus ditekankan sikap asertif janganlah merugikan atau menyakiti perasaan orang lain. Misal, saat anak diberi hadiah ulang tahun oleh orang lain, sementara hadiah tersebut tidak disukainya, anak hendaknya tidak mengatakan, “Hadiah ini jelek, aku tidak suka.”
Juga apa yang hendak disampaikan hendaknya diucapkan dengan kata-kata yang sopan, dan tidak mengumbar ketidaksukaan dengan kata-kata kasar. Saat si teman mengucapkan kata-kata kasar, alangkah baiknya jika dibalas dengan mengatakan, “Aku tidak suka kata-kata kasar itu,” atau, “Aku enggak mau main bersamamu lagi.”

Sikap asertif juga harus dijauhkan dari sikap ego anak, saat anak sedang bermain game dan orang tua menyuruh belajar, lalu si anak menolak karena tanggung, maka hal demikian bukan asertif yang positif. Demikian juga saat anak memilih baju yang sangat mahal di luar kemampuan orang tuanya, itu bukan sikap asertif karena merugikan orang lain.

Nah, meski sudah bisa dikenalkan dengan sikap asertif, imbuh Henny, orang tua tidak bisa sepenuhnya mengharapkan anaknya langsung bersikap asertif. Sebab, anak-anak usia prasekolah masih belum sepenuhnya bisa mengungkapkan keinginannya dengan tegas, terlebih jika orang yang dihadapinya adalah orang-orang yang lebih tua atau orang dewasa. “Di sini, kesigapan orang tua untuk memupuk kepercayaan diri anak sangat diperlukan. Dalam situasi dan kondisi apa pun anak diajarkan untuk bersikap asertif.”

Selain itu, sikap asertif juga memerlukan kesiapan mental orang tua. Seringkali orang tua kaget dan terkejut saat anaknya bersikap asertif. Misalnya, anak tiba-tiba mengkritik kebiasaan bapaknya merokok atau bangun di siang hari, atau menghadapi anak yang ogah kala disuruh karena sedang asyik belajar bersama teman-temannya. Sikap anak tersebut seringkali oleh orang tuanya bukannya dinilai positif, melainkan negatif. Anak-anak dicap pembangkang oleh orang tuanya, padahal justru itulah sikap asertif.
Selain itu, ada nilai-nilai yang dianut masyarakat kita, dimana sikap mengalah dan selalu mementingkan kepentingan orang lain menjadi yang utama. Nilai ini, terus terang saja, sangat tidak mendukung pemupukan sikap asertif. Nilai-nilai moral tersebut akan membuat anak cenderung bersikap altruist, yaitu sikap mementingkan orang lain, sementara dirinya sendiri sangat dirugikan. Jadi, pandai-pandailah memberi pandangan kepada anak, kapan kita perlu bersikap mengalah dan kapan mesti mempertahankan kepentingan pribadi.

LANGKAH MENJADI ASERTIF

1. Usahakan anak bisa mengekspresikan ketidaksukaannya, seperti, “Saya tidak suka itu, ….”, “Saya akan marah…”, “Kamu enggak boleh begitu”, “Saya minta ganti…” Demikian juga tentang kesukaannya, “Saya ingin baju yang…”, “Saya suka dengan…”, “Aku mau yang…”

2. Beri pujian atas perilaku asertifnya, katakan kepada anak, “Saya senang kamu bisa mengatakan ketidaksukaan kepada teman yang sering merebut mainanmu.”

3. Dorong anak untuk bisa mengutarakan sikap asertifnya kepada orang terdekatnya jika memang ia terdesak, seperti, “Ibu guru, mainan saya direbut oleh si Adi. Saya enggak suka mainan saya direbut.” Hal ini dilakukan jika teman yang merebutnya memang tidak mau mengalah.

4. Anak diberitahu agar jangan balas sikap agresif dengan sikap agresif lagi. Lebih baik ajarkan kepada anak agar belajar bertahan daripada menyerang. Mungkin dengan belajar beladiri supaya bisa menangkis serangan lawan ketimbang menyerang. Ajarkan untuk mengutamakan otak daripada otot.
(tabloid-nakita)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: