Membuat Jadwal Harian Yuuk…

21 08 2009

Penting dibuat karena anak jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Jangan biarkan waktu anak terbuang percuma. Manfaatkanlah secara maksimal agar apa yang diperolehnya sehari-hari bisa menjadi maksimal. Salah satunya dengan membuat jadwal harian. Jadwal yang teratur membuat anak memperoleh beragam kegiatan secara merata, sehingga pengalamannya lebih komplet.

Di sisi lain, dengan ketiadaan jadwal harian yang baik, anak akan mendapat konsekuensi langsung yang bisa merugikan dirinya sendiri. Contoh, bila anak keasyikan bermain kemudian lupa makan, dia akan kelaparan sehingga mudah terganggu kesehatannya. Kalau kurang tidur, maka anak akan sering rewel, mudah marah, dan lainnya.

Meskipun dampaknya terlihat sederhana, jika sering terjadi dapat menimbulkan kerugian yang cukup luas. Anak yang sering rewel misal, dia tak bisa mendapatkan manfaat interaksi sosial secara maksimal karena dalam bermain dia akan sering ngambek. Bila terlambat makan kemudian dia jajan sembarang, lebih mudah terserang penyakit.

Tak demikian halnya bila kita menerapkan jadwal harian secara baik, anak justru akan memperoleh banyak manfaat. Dia jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Anak pun dapat mengenal konsep waktu dan konsep urutan.

4 MANFAAT

1. Belajar Konsep Waktu

Pemahaman konsep waktu didapatnya saat melakukan berbagai kegiatan di pagi, siang, sore, dan malam. Pagi, setelah bangun tidur misalnya, anak akan memahami kalau di saat itu dia harus mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah. Selanjutnya di siang hari dia harus makan siang dan tidur siang. Begitu juga sore dan malam hari, anak akan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di waktu-waktu tersebut, dari bermain di taman hingga tidur malam.

Supaya pemahaman anak akan konsep waktu lebih mendalam, cobalah terangkan waktu saat anak melakukan aktivitas, “Adek, sudah pagi, bangun yuk! Habis gitu kita mandi.” Saat siang kita bisa bilang, “Nah, siang ini kamu waktunya tidur siang.” Dengan penjelasan seperti ini, anak jadi lebih memahami konsep waktu.

2. Belajar Konsep Urutan

Setelah terbiasa melakukan kegiatannya, anak mulai memahami urut-urutan aktivitas yang harus dia lakukan, “Sehabis mandi aku akan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah.” Dengan memahami urut-urutan ini, aktivitas anak akan berjalan lebih teratur. Berbeda dengan anak yang tak memiliki jadwal harian, dia akan secara serabutan melakukan aktivitasnya. Mungkin hari ini dia akan tidur siang dahulu baru bermain atau bermain dahulu hingga sore baru tidur. Tentu hal ini tidak membuat anak belajar tertib sehingga banyak aktivitas yang seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal malah terbuang percuma.

3. Disiplin

Setelah memahami jadwal yang harus dilakukannya, anak akan dituntut untuk disiplin mematuhinya, “Oke, sekarang memang waktunya tidur siang jadi aku harus mematuhi Mama.” Memang, awalnya agak sulit menerapkan kedisiplinan ini namun lambat laun anak akan terbiasa. Nah, setelah kedisiplinan itu melekat pada anak, selanjutnya akan mudah bagi anak melakukan aktivitas yang sudah kita jadwalkan. Kelak di saat dewasa, dia lebih mudah mengatur jadwal kesehariannya karena sudah terbiasa sejak kecil. Dengan disiplin tinggi biasanya kesuksesan hidup akan lebih mudah diraih.

4. Bertanggung Jawab

Disiplin erat kaitannya dengan tanggung jawab. Setelah anak mampu berdisiplin, otomatis rasa tanggung jawab pada dirinya pun akan muncul. Anak bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukannya di saat pagi, siang, sore, dan malam. “Sekarang waktunya makan siang, aku harus makan,” misal. Sikap tanggung jawab yang sudah muncul sejak kecil akan sangat bermanfaat kelak saat dewasa. Dia akan lebih mampu untuk menerima tugas dan menuntaskannya dengan baik.

Kiat Mengenalkan

Beberapa hal harus kita perhatikan saat mengenalkan jadwal harian kepada anak, mengingat banyak anak usia prasekolah yang masih memiliki sikap egosentris tinggi. Mereka ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, semaunya, tidak mau diatur, dan sebagainya. Nah, berikut ini 4 hal penting yang harus jadi perhatian orangtua!

1. Berikan Penjelasan

Anak tak akan paham bila kita tak menjelaskan apa yang ingin kita terapkan kepadanya. Untuk itu, berikan penjelasan secara sederhana mengenai jadwal harian, “Adek lihat, ini adalah jadwal harian kamu!” sambil menunjuk papan jadwal yang bergambar aneka tokoh kartun kesayangannya. “Pagi hari kamu mandi, sarapan terus ke sekolah deh. Nah, siangnya sepulang sekolah kamu makan siang dan tidur siang….. ” Dengan penjelasan seperti itu anak akan lebih memahami kalau ada kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal. Berbeda bila anak tak diberikan penjelasan sama sekali, dia akan lebih sulit untuk diarahkan karena memang dia tak tahu hal apa saja yang harus dilakukannya seharian.

2. Libatkan Anak

Sangat baik bila kita melibatkan anak saat menyusun jadwal hariannya. Selain anak merasa lebih dihargai, pelaksanaan jadwal harian pun dapat diterapkan lebih mudah. Pasalnya, anak merasa ikut dilibatkan sehingga dia merasa lebih bertanggung jawab untuk mematuhinya. Lagi pula, jika anak mangkir kita bisa mengingatkan bahwa ia juga yang menyusun jadwal itu. “Kamu kan sudah ikut membuat jadwal ini, masak tidak mau melaksanakannya!” Dengan pengingatan seperti ini akan lebih mudah membuat anak mematuhinya.

3. Lakukan Kontrol

Memang di awal agak sulit menerapkan jadwal harian pada anak. Butuh kontrol dari kita dengan selalu mengingatkan apa saja yang harus dilakukan anak saat pagi, siang, sore, dan malam. Dengan kontrol yang baik, anak akan terbantu untuk mematuhi jadwal hariannya.

Setelah anak bisa mengikuti jadwal hariannya, kontrol harus dilepas secara perlahan. Biarkan anak memegang kontrol sendiri terhadap jadwal hariannya, karena dengan kontrol sendiri anak bisa mendapatkan banyak manfaat seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Berbeda ketika kita yang harus terus-menerus mengingatkan anak, manfaatnya tak bisa diperoleh anak secara maksimal.

4. Bersikap Fleksibel

Agar jadwal harian tak terkesan membatasi aktivitas anak, sebaiknya di saat-saat tertentu kita harus fleksibel. Contoh, saat libur sekolah, hari raya, atau di saat-saat spesial yang sulit menerapkan jadwal harian. Biarkan sesekali jadwal tidur siang anak telat sedikit karena dia sedang asyik bermain dengan sepupunya yang sedang berlibur di rumah, atau biarkan anak tidak belajar karena memang sekolah sedang libur, dan lainnya. Dengan sikap fleksibel ini, anak tidak akan merasa tertekan ataupun stres.

Sikap fleksibel juga diperlukan terhadap si prasekolah yang egosentrisnya masih sangat tinggi, ataupun terhadap anak yang sudah terbiasa dengan jadwal yang sama sekali tidak teratur sehingga sangat sulit menjadwalkan kegiatan hariannya. Begitu pula bila anak tumbuh di lingkungan yang “hidup” tanpa jadwal. Setiap hari, anak-anak tetangga bermain sepanjang hari sehingga sangat sulit bagi kita meminta anak untuk tidur siang. Contoh, pukul 2 siang kita mengharuskan anak tidur siang padahal anak-anak lingkungan sekitar sedang ramai, hilir mudik, asyik bermain.

Nah, menghadapi kondisi-kondisi tersebut, kita tak perlu menuntut anak untuk 100% mematuhi jadwal hariannya. Bila memang hanya 50% yang bisa diikutinya, itu pun sudah merupakan keberhasilan mengingat memang sangat sulit menerapkannya secara penuh. Ingat, jadwal harian dibuat tidak untuk mengungkung anak tetapi butuh fleksibilitas sehingga kebutuhan anak tetap terpenuhi. Yang penting, kita tetap berusaha memenuhi jadwal yang sudah dibuat.

sumber : tabolid-nakita


Actions

Information

2 responses

25 10 2009
cerita sukses

wahhhhhhhhhhh….
kalau aq sih amburadul jadwal harian…

ok deh mau ikutin tips ini & mau coba atur jadwal harian gue..

mau bisnis gak?

kunjungi
http://www.tinyurl.com/ycsfstf

ADITIYA AGUSTA
ones42@rocketmail.com
085764629956

12 11 2009
Media Surviva

makasih kunjungannya…., tks link-nya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: